Eeeeiiits, tunggu dulu! Judul di atas gak mewakili 100% pembahasan kita tentang ‘gas beracun’ itu lho… hehe. Tapi ya gitu, manusia emang punya banyak potensi buruk. Salah satunya tergesa-gesa (QS. 17:11). Bahkan tergesa-gesa dalam menuduh, seperti judul di atas. Hehe. ^_^ Dalam hal ini, bukti faktual baru-baru ini membuktikan satu hal yang tak terbantahkan oleh kita semua… sebau-bau kentut, asal itu masih kentut sendiri, kita tetap welcome atas kehadirannya. Memberikan ruang agar ‘gas beracun’ itu leluasa menjangkau angkasa. Meski agak malu, ini hidung gak pernah nolak mencium, ini mulut gak pernah berani menghina. Yang ada malah itu mulut tertutup rapat (pura-pura gak tahu) atau teriak duluan sambil nutup hidung, “iiih, bau banget!
|
Papan Kayu, Paku, dan Lubang Harus diakui, siapa pun orang di sekitar kita pasti memiliki tempat tersendiri di hati. Berdasarkan perbedaan porsi, muncullah klasifikasi status sosial-pribadi: kenalan, teman, sahabat, saudara, keluarga, atau bahkan kekasih. Klasifikasi tersebut memiliki satu pondasi: cinta. Kualitas cinta akan semakin sempurna apabila memiliki porsi yang total. Sepenuh hati. Suci. Cinta seperti ini tentu saja didasarkan bukan semata-mata cinta karena makhluk, melainkan cinta karena Allah SWT.[1] Cinta seperti inilah yang patut kita realisasikan dalam kehidupan, termasuk pernikahan.
|
Letih tkkn prnh sggup mruntuhkn glora jiwa muda yg mmliki asa m’angkasa. 8 perhiasan |
Di dasar hatimu, sebenarnya ada sebuah jendela. Lewat dia, kau dapat memandang dunia sambil aman terjaga. Meskipun, jika kau diskusikan, apa yang tertangkap oleh mata tidaklah sama. Itu karena setiap manusia memiliki jendela hati yang berbeda. Semua tergantung di mana letak sudut dan seberapa luas jendela yang ada. Betapa pun disajikan warna yang hebat, tak akan pernah terlihat jika kaca jendelamu penuh debu yang mengerat. Seramai apa pun kilau yang disemai, tak akan pernah tampak jika kau terus menutupinya dengan tirai. Memang tidak selalu cerah yang kau dapatkan. Terkadang ada senja, badai, atau bahkan mendung yang gelap gulita. Namun pastikan, di akhir gelap selalu ada pelangi harapan, yang senaniasa membawa segenggam cahaya. Biarkanlah sinar itu masuk. Menyusuri hatimu yang kini sedang gelap. Yang kau butuhkan hanyalah pembersih dan sepasang tangan untuk menyibak segala tudung hatimu. Lalu biarkan pelita di dasar hatimu menyala dengan sendirinya. Agar kau dapat tetap bersinar meski tak ada cahaya yang tersaji di luar jendela hatimu. Jagalah baik-baik kaca jendelamu. Karena ia pelindung jiwamu. Sekali ia terpecah, maka ia tak dapat kembali sempurna, membiaskan seluruh cahaya ke dalam spektrum fana dunia. [Limo, 24 Januari 2010] |
Sahabat… Sebelum kau mengeluh Sebelum kau menangis Sebelum kau marah Satu yang kupinta |



